Jalan Lintas Wera – Ambalawi: Abainya Eksekutif dan Legislatif Berarti Mengikis Kepercayaan Rakyat!

Berita278 Dilihat


Oleh: Yakin Noer (Aktivis HMI MPO)

Bima, Kabaroposisi, Id__ Kerusakan infrastruktur jalan lintas Wera – Ambalawi di Kabupaten Bima bukan lagi persoalan baru, melainkan luka lama yang terus dibiarkan menganga.

Jalan yang seharusnya menjadi urat nadi mobilisasi masyarakat di wilayah Wera dan Ambalawi kini berubah menjadi jalur penuh risiko: berlubang, berlumpur saat hujan, dan berdebu saat kemarau. Kondisi ini tidak hanya menghambat aktivitas ekonomi, tetapi juga mengancam keselamatan warga yang setiap hari melintasinya.

Ironisnya, di tengah keluhan yang terus bergema dari masyarakat, bahkan sempat dibuat viral oleh pemilik akun facebook “Bajak Laut” yang menyebutkan bahwa jalan lintas Wera – Ambalawi adalah jalan Sumur Kering karena banyak yang berlubang. Respons dari DPRD Kabupaten Bima khususnya perwakilan Dapil Wera – Ambalawi, justru terkesan abai. Wakil rakyat yang seharusnya menjadi jembatan aspirasi publik tampak tidak mampu bahkan tidak mau mendorong percepatan perbaikan jalan tersebut. Janji-janji politik yang dulu lantang disuarakan kini seolah menguap tanpa jejak, menyisakan kekecewaan yang mendalam di tengah masyarakat.

Sikap serupa juga terlihat dari Bupati Bima yang dinilai belum menunjukkan langkah konkret dan terukur dalam menangani persoalan ini. Padahal, sebagai pemegang kendali eksekutif, Bupati memiliki kewenangan besar untuk menetapkan prioritas pembangunan, termasuk memperbaiki infrastruktur vital seperti jalan lintas Wera – Ambalawi. Ketidaktegasan dalam mengambil keputusan justru memperpanjang penderitaan masyarakat.

Akibatnya, warga harus menanggung beban yang seharusnya menjadi tanggung jawab pemerintah. Distribusi hasil pertanian terhambat, biaya transportasi meningkat, dan akses terhadap layanan dasar seperti kesehatan dan pendidikan menjadi semakin sulit. Dalam jangka panjang, kondisi ini berpotensi memperlebar kesenjangan pembangunan antarwilayah di Kabupaten Bima. Apalagi jalan lintas Wera – Ambalawi merupakan jalan penghubung menuju Kota Bima.

Ini bukan sekadar kritik, tetapi juga bentuk peringatan. Bahwa pembangunan tidak boleh hanya berpusat di wilayah tertentu, sementara daerah lain dibiarkan tertinggal, sebab jalan lintas Wera – Ambalawi bukan sekadar infrastruktur fisik, ia adalah simbol keadilan pembangunan. Dan selama kerusakan ini terus dibiarkan, selama itu pula kepercayaan masyarakat terhadap pemerintah akan terus terkikis.(*)