Pengelolaan Sampah Yang Berkelanjutan di Kabupaten Bima Dengan Program “Sakara Rasa”

Berita77 Dilihat

Oleh : Dr. Taufiqurrahman, ST., M. Si dosen UNSWA Bima/ Sekretaris Dishub Kabupaten Bima/Tim pakar kelayakan lingkungan hidup.


BIMA, Kabaroposisi, Id__ Dr Taufiqurrahman, ST., M. Si Dosen Unswa Bima saat ini menjabat sebagai sekretaris Dinas Perhubungan kabupaten Bima dan sekaligus tim pakar kelayakan lingkungan hidup yang mendapat gelar S2 Perencanaan Lingkungan kampus UGM, S3 Ilmu Lingkungan Brawijaya, lulus dengan predikat pujian IP 3,94 hampir Sempurna.

Sosok ini, di era kepemimpinan H Syafrudin H M Nur merupakan tim yang merancang bangunan kantor Bupati Bima saat itu sesuai keilmuannya, Putra Asli Sape.

Dalam tulisannya di bawah ini, terkait pengelolaan sampah yang berkelanjutan di Kabupaten Bima dengan Program “Sakara Rasa” .

Dimana kualitas lingkungan hidup di masing masing daerah merupakan parameter dalam keberhasilan mengelola lingkungan. Salah satu komponen yang mempengaruhi kualitas lingkungan adalah sampah.

Isu sampah merupakan isu krusial dan sejalan dengan tujuan Sustainable Development Goals (SDGs). Berdasarkan isu pembangunan berkelanjutan paling strategis di Kabupaten Bima, yaitu belum optimalnya pengelolaan persampahan dan air limbah.Ini merupakan isu paling strategis ke-2 dari 6 isu pembangunan berkelanjutan paling strategis.

Permasalahan sampah di Kabupaten Bima masih belum teratasi dengan baik. Hal ini disebabkan karena pengelolaan sampah masih konvensional, yaitu end-of-pipe. Pola ini dinilai tidak berkelanjutan karena hanya menyebabkan penumpukan sampah.

Hasil audit BOLH KemeLH, timbulan sampah di Kabupaten Bima per Desember 2025 sebesar 244,61 ton/hari, dengan sampah yang dikelola sebanyak 3,59 ton/hari atau 1,47% dan sampah yang belum dikelola sebesar 98,53%.

Pengelolaan sampah di Kabupaten Bima perlu dilakukan dengan sistem yang terintegrasi yang berfokus pada keberlanjutan, pengurangan limbah pada sumbernya, dan Konvensi sampah menjadi energi atau produk bernilai (waste to energy). Pendekatan ini mengutamakan desentralisasi, tekhnologi ramah lingkungan dan partisipatif aktif semua komponen masyarakat. Program SAKAKA RASA menjadi solusinya.

Berdasarkan analisa dengan pendekatan collaborative Governance ada 5 komponen yang ikut terlibat dalam melakukan kolaborasi pengelolaan sampah, dan berdasarkan analisa SWOT ada 13 langkah strategis dalam mereduksi sampah.

Ada 2 langkah kunci dalam program SAKAKA RASA, yaitu:
1. Kolaborasi antara kelompok dalam pengelolaan sampah; Langkah ini dilakukan agar pemerintah dan stakeholder berpartisipatif secara komprehensif dan berperan aktif dalam pengelolaan sampah sesuai dengan tugas dan tanggungjawab nya
2. Reduksi sampah berkelanjutan; Langkah ini dilakukan agar sampah yang sampai ke TPS bisa dikurangi.

Pemanfaatan inovasi dan teknologi dengan pengolahan pada sumbernya, yaitu daur ulang sampah yang ramah lingkungan dan bernilai ekonomis menjadi important point.(**)