Siswa SMP Jalan Kaki 3 Kilometer Demi Bawa Pulang MBG

Berita55 Dilihat

Foto: Siswa di Wera.

BIMA, Kabaroposisi, Id– Di tengah riuh program Makan Bergizi Gratis (MBG) yang digagas untuk membantu anak-anak sekolah, kisah seorang bocah SMP di Kabupaten Bima, Nusa Tenggara Barat (NTB), justru menyentuh hati banyak orang.

Namanya Indra Ardiansyah. Siswa kelas 7 SMP 3 Wera Rangga Solo, Dusun Suka Maju, Desa Sangiang, Kecamatan Sangiang itu setiap hari berjalan kaki sejauh sekitar 3 kilometer demi bisa tetap bersekolah dan mendapatkan jatah MBG untuk keluarganya di rumah, dikutip dari Jurnal Sumbawa NTB.

Langkah kecil Indra di jalan berbatu menuju sekolah ternyata menyimpan cerita pilu yang membuat banyak orang terdiam. Bukan hanya ingin belajar, Indra datang ke sekolah dengan satu harapan sederhana, membawa pulang makanan untuk Adik-adiknya.

Di usianya yang masih sangat muda, Indra harus memahami kerasnya hidup lebih cepat dibanding anak-anak seusianya.

Salah satu guru di sekolah tersebut, Sri Nurhayati, menuturkan bahwa Indra dikenal sebagai anak yang rajin dan nyaris tak pernah absen meski tidak memiliki kendaraan untuk pergi ke sekolah.

“Dia tetap sekolah walaupun nggak ada kendaraan, anaknya rajin,” ujar Sri Nurhayati yang juga Koordinator MBG di sekolah saat dikonfirmasi, Kamis (7/5).

Menurut Sri, setiap hari Indra berjalan kaki dari rumah menuju sekolah. Perjalanan itu bukanlah hal mudah bagi seorang anak SMP, terlebih dengan kondisi ekonomi keluarganya yang serba terbatas. Namun yang membuat para guru tersentuh bukan hanya perjuangan Indra menuju sekolah, melainkan alasan di balik kegigihannya mengikuti program MBG.

Usai pembagian MBG, Indra kerap meminta izin untuk membungkus sisa makanan dari siswa lain yang tidak hadir. Awalnya, para guru mengira makanan itu untuk dirinya sendiri. Namun jawaban Indra membuat suasana mendadak hening.

“Selalu dibungkus, saya tanya ternyata untuk adik-adiknya di rumah,” tutur Sri dengan suara lirih.

Indra diketahui tinggal bersama kakek, bibi, dan empat adiknya. Sementara kedua orang tuanya berada di Dompu untuk mencari nafkah. Kondisi ekonomi keluarga mereka disebut jauh dari kata cukup. Dalam situasi itu, makanan dari sekolah menjadi sesuatu yang sangat berarti bagi keluarga kecil tersebut.

“Orang tuanya ke Dompu untuk cari nafkah, dia tinggal bersama kakek dan bibinya,” katanya.

Bukan hanya sekali, kebiasaan Indra membungkus MBG sudah dilakukan selama beberapa hari terakhir. Bahkan teman-temannya yang mengetahui kondisi tersebut ikut tergerak membantu. Sebagian siswa rela memberikan jatah MBG milik mereka kepada Indra agar bisa dibawa pulang untuk dimakan bersama adik-adiknya.

“Teman-temannya juga ada yang kasih langsung, dan nggak makan MBG lalu diberikan ke Indra,” ungkap Sri.

Kisah Indra kini menyentuh hati banyak warganet. Di balik seragam sekolah dan langkah kecilnya setiap pagi, ada perjuangan seorang kakak yang berusaha memastikan adik-adiknya bisa makan.

Di saat sebagian anak seusianya sibuk bermain dan bercanda, Indra memilih berjalan kaki berkilo-kilometer sambil memikirkan bagaimana keluarganya bisa bertahan hari itu.

Kisah ini menjadi pengingat bahwa bagi sebagian orang, seporsi makanan bukan sekadar makan siang, melainkan harapan untuk tetap bertahan hidup. (Red)