Oleh: Dr. Rabwan Satriawan, M.Pd (Doktor Olahraga STKIP Taman Siswa Bima)
Bima, Kabaroposisi, Id__ Waktu menuju Pekan Olahraga Provinsi (PORPROV) NTB 2026 terus berjalan, Juli 2026 semakin dekat. Tetapi bagi Kabupaten Bima, ancaman terbesar bukanlah kekuatan lawan di arena PORPROV melainkan kelemahan dari dalam.
Jika pola lama terus dipertahankan, maka satu hal yang pasti: Kabupaten Bima tidak akan kalah di lapangan, tetapi sudah kalah sejak di meja rapat KONI. Hasil PORPROV NTB 2023 seharusnya menjadi refleksi kolektif bagi Kabupaten Bima.
Namun alih-alih melahirkan pembenahan sistemik, yang terjadi justru pengulangan pola lama pengelolaan olahraga yang tidak berbasis kompetensi, tetapi kepentingan. Dilihat dari itu menjadi tamparan keras. Peringkat ke-9 dari 10 Kabupaten/Kota bukan sekadar angka itu adalah bukti nyata kegagalan sistemik dalam pembinaan olahraga.
Tetapi alih-alih berbenah, yang terjadi hari ini justru lebih memprihatinkan: energi habis untuk perebutan kursi Ketua KONI, bukan untuk menyiapkan atlet. Dan seharusnya melahirkan pembenahan sistemik, yang terjadi justru pengulangan pola lama, pengelolaan olahraga yang tidak berbasis kompetensi, tetapi kepentingan.
Lebih parah lagi, publik sudah terlalu sering menyaksikan pola lama yang terus berulang, KONI diisi oleh para politisi yang minim pemahaman olahraga, tetapi penuh ambisi kekuasaan. KONI atau Panggung Politik?
Pertanyaan ini penting dan tidak bisa lagi dihindari. Sudah menjadi rahasia umum bahwa kepengurusan KONI sering kali menjadi “tempat parkir” bagi politisi. Mereka datang dengan jaringan, tetapi tanpa visi pembinaan. Mereka membawa kepentingan, tetapi bukan keahlian, sehingga bisa mengakibatkan beberapa hal Program olahraga disusun tanpa dasar ilmu pengetahuan, Atlet dijadikan pelengkap, bukan prioritas, Anggaran habis pada kegiatan seremonial, bukan peningkatan performa, Jabatan diisi berdasarkan kedekatan, bukan kompetensi.
Jika KONI terus dikelola dengan cara seperti ini, maka jangan salahkan siapapun ketika Kabupaten Bima kembali menjadi penonton daerah lain yang berprestasi. Ini bukan sekadar kritik. Ini adalah realitas yang terlalu lama dibiarkan.
Kegagalan yang Dipelihara
Masalah Kabupaten Bima bukan kekurangan atlet berbakat, Bima punya banyak talenta. Yang bermasalah adalah sistemnya, dan lebih tepatnya orang-orang yang mengelola sistem tersebut.
Bagaimana mungkin prestasi bisa lahir jika:
1. Tidak ada roadmap pembinaan yang jelas.
2. Tidak ada pemusatan latihan yang serius.
3. Tidak ada pendekatan sport science dalam Latihan.
4. Dan yang paling fatal lagi adalah, tidak ada orang yang benar-benar paham olahraga di posisi strategis. Kita sedang memelihara kegagalan, bukan memperbaikinya.
Mari bicara jujur: waktu menuju PORPROV NTB 2026 sudah sangat sempit. Tidak ada lagi ruang untuk eksperimen, apalagi kompromi politik. Jika sampai hari ini persiapan belum matang, maka itu bukan karena kekurangan waktu, tetapi karena salah prioritas. Dan jika KONI masih sibuk dengan konflik internal dan perebutan jabatan Ketua Umum beserta jajaran ke bawahnya, maka satu hal pasti: Kabupaten Bima sudah kalah sebelum bertanding.
Langkah Radikal yang Harus Segera Diambil
Situasi ini tidak bisa diselesaikan dengan cara biasa. Dibutuhkan langkah berani dan bahkan “tidak nyaman” bagi sebagian pihak.
1. Bersihkan KONI dari Dominasi yang Tidak Kompeten
KONI bukan tempat belajar olahraga, siapapun yang tidak punya kapasitas segera mundur atau disingkirkan.
2. Bentuk Tim Teknis Profesional dan Independen
Serahkan urusan prestasi kepada; Akademisi olahraga, Pelatih berlisensi, dan Praktisi yang terbukti berpengalaman
Bukan kepada mereka yang hanya pandai berpidato.
3. Jalankan Training Camp Sekarang, Bukan Nanti
Tidak ada alasan lagi, harusnya; (a) atlet segera masuk pemusatan Latihan; (b) program latihan harus berbasis data dan terukur; dan (c) evaluasi dilakukan secara rutin
Tanpa ini, berbicara prestasi adalah “omong kosong”.
4. Fokus pada Cabor Penyumbang Medali
Berhenti membagi anggaran secara “adil tapi tidak produktif”. Fokuskan pada cabang olahraga yang realistis menyumbang medali.
5. Libatkan Perguruan Tinggi Secara Nyata
Bukan sekadar formalitas:
a. Gunakan sport science
b. Lakukan tes fisik dan analisis performa
c. Bangun sistem pembinaan modern
Prestasi Tidak Lahir dari Politik
Sudah saatnya kita berhenti berbohong pada diri sendiri. Prestasi olahraga tidak lahir dari rapat-rapat elit, tidak dari baliho, dan tidak dari jabatan.
Prestasi lahir dari:
a. Sistem yang benar
b. Orang yang kompeten
c. Kerja keras yang konsisten
Jika KONI Kabupaten Bima masih dikelola dengan pola lama, yakni politik tanpa kompetensi maka tidak perlu menunggu Juli 2026 untuk mengetahui hasilnya. Kita sudah tahu: gagal, lagi.
Dan kali ini, itu bukan sekadar kegagalan atlet. Itu adalah kegagalan kita semua yang membiarkan olahraga dikelola bukan oleh ahlinya.(*)
Persimpangan Bima Menuju Porprov 2026: Jika KONI Masih Dikelola Tanpa Kompetensi, Jangan Mimpi Kabupaten Bima Berprestasi
