Orang Tua TG dan Warga Blokir Jalan, Tuntut Keadilan Dari APH

Berita140 Dilihat

Foto: Saat Aksi Pemblokiran Jalan di Tambe.

Bima, Kabaroposisi, Id– Orang tua almarhum Teguh (15) siswa SMK 1 Bolo ditemukan tewas di Rasabou beberapa hari kemarin bersama warga Desa Tambe, Kecamatan Bolo, melakukan aksi pemblokiran jalan, menuntut keadilan atas dugaan pelaku pembunuhan anaknya bukan disebabkan oleh pelaku tunggal, diduga kuat masih ada pelaku lain.

Aksi, pemblokiran ini dilakukan selama satu jam, dilakukan pada Rabu (20/5) sekira pukul 09 Wita.

Dalam orasinya, Zulkarnain orang tua almarhum menduga, dari melihat fisik almarhum anaknya, diduga kuat pelaku lebih dari satu.

“Pihaknya, menuntut hal ini segera diungkap. Pasalnya, kuat sekali dugaan ini,” tuturnya.

Walaupun diacungi jempol atas sigapnya, pihak jajaran polsek Bolo dalam mengamankan diduga pelaku setelah almarhum anaknya ditemukan.

Kata Nai sapaan akrab Zulkarnaen, Pemblokiran jalan terpaksa dilakukan sebagai bentuk protes terhadap kinerja aparat kepolisian terutama dalam hal pengungkapan terduga pelaku dan motifnya.

Menurutnya Maulana bukanlah pelaku tunggal seperti Fersi aparat kepolisian.” Saya sebagai ayahnya korban sangat tidak terima dengan Fersi itu, begitu juga dengan Tempat Kejadian Perkara ( TKP) sebagai tempat penemuan mayat bahwa sesungguhnya di situ bukan tempat pembunuhan terjadi melainkan bahwa M. Teguh dibunuh ditempat lain lalu kemudian mayatnya dibuang di situ”, dugaanya. 

Lanjut Nai sapaan akrabnya, Fersi kepolisian terbantahkan bukan tanpa alasan karena adanya sejumlah kejanggalan, diantaranya, tempat pertama kali penemuan mayat, disana ( di sawah itu ) ditanami kedelai, jika disitu sebagai TKP pembunuhan , dapat dipastikan di sekitar lokasi ditemukan kerusakan tanaman kedelai, justru masih terlihat tetap tumbuh subur dan segar.

Begitu juga dengan kondisi mayat yang mengalami sejumlah luka serius terutama pada bagian wajah, kepala dan perut serta mengalami patah tulang paha dan kaki. “Jika dilakukan oleh hanya satu orang pelaku, maka mustahil terdapat sejumlah luka parah, itu artinya tidak hanya terduga pelaku tunggal ( seperti Fersi kepolisian berdasarkan hasil BAP terhadap Maulana terduga pelaku ), melainkan ada pelaku lain yang ikut serta membantu melakukan penganiayaan secara beramai ramai terhadap anak saya.

Hal senada juga diungkapkan Buyung Nasution, S.Pd dalam orasinya. Mendesak kepolisian untuk segera mengungkap pelaku lain karena dinilai janggal dan sangat tidak masuk akal jika itu dilakukan seorang Maulana ( pelaku tunggal ) melainkan ada keterlibatan beberapa orang yang telah melakukan penganiayaan yang mengakibatkan hilangnya nyawa M.Teguh. 

Karena itu kami dari keluarga dekat korban meminta kepada aparat kepolisian untuk bekerja lebih giat lagi, mengedepankan azas praduga tak bersalah, profesional dan transparan sehingga yang menjadi tanda tanya selama beberapa hari paska temuan mayat dapat terjawab dengan jawaban yang memuaskan semua pihak terutama pihak keluarga korban yang menuntut keadilan. 

Setelah Kapolsek Bolo IPTU Muhammad Sofyan Hidayat, S.Sos memberikan keyakinan bahwa siapa pun yang patut dicurigai akan dimintai keterangan namun harus disertai dengan saksi yang dihadirkan kemudian diamini oleh keluarga korban dan ucapan Selamat bekerja, semoga sukses selalu terdengar dari sejumlah warga yang hadir yang memberikan semangat kepada pria yang berpangkat IPTU yang baru saja dilantik menjadi Kapolsek Bolo, setelah itu pemblokiran jalan bubar dan lalu lintas kembali normal. (Red )