Saldo Rekening BSI Dipotong Sepihak, Nasabah Sesalkan dan Kecewa

Berita131 Dilihat

Foto: Gambar Ilustrasi.

BIMA,Kabaroposisi Id— Seorang nasabah PT Bank Syariah Indonesia (BSI) Kantor Cabang Pembantu Soeta Bima, Rohani Ekayati, mengaku saldo dalam rekening pribadi sebanyak Rp 16 juta maupun dana blokir senilai Rp 9 juta dipotong sepihak oleh bank pada Oktober 2026.

Berdasar penjelasan yang diperoleh korban, pemotongan dilakukan pihak bank untuk menutupi tunggakan kredit selama 3 bulan. Sisi lain, pihak bank juga telah memotong dana blokir milik korban dengan dalih serupa untuk menutupi tunggakan kredit yang sama.

“Jadi, ada dua kali pemotongan yang dilakukan pihak bank untuk menutupi tunggakan kredit yang sama,” ucap korban, Rohani Ekayati dalam surat tertulis yang dikutip dari redaksi detailntb.com, Senin 12 Oktober 2026.

Korban Rohani menceritakan, memiliki pembiayaan pada BSI sejak masih aktif mengajar. Selama itu, angsuran dibayarkan oleh bendahara sekolah yang menerima gaji. “Saya tidak pernah menerima teguran, telepon penagihan, maupun kunjungan penagih ke rumah,” kisahnya.

Setelah pensiun, angsuran dialihkan ke rekening BSI pribadi sebesar Rp 2.865.949,87 perbulan sesuai akad yang diperbarui. Pada Juli, Agustus, dan September 2026 korban belum dapat membayar karena Tunjangan Hari Tua dan gaji pensiun belum cair dari T aspen.

“Pada September 2026, dana blokir saya sebesar 9 juta ditarik bank untuk membayar tiga bulan angsuran tersebut totalnya Rp 8.597.849,61, sehingga sisa dana blokir seharusnya Rp 402.150,39. Saldo dana blokir
yang saya terima justru nol,” ungkapnya.

Rohani melanjutkan, pada September 2026, petugas BSI menghubunginya dan menyampaikan pada bulan Oktober nanti hanya perlu membayar satu kali angsuran, yaitu pada tanggal 1.

“Saya menyanggupi. Gaji pensiun Oktober ternyata terlambat dari T aspen. Saya sudah
menanyakannya langsung ke T aspen Mataram dan dijawab pembayaran dilakukan pada tanggal 15 ke atas,” ujarnya.

Saat memeriksa rekening, ternyata saldo korban turun dari Rp 16.791.059 juta menjadi Rp 10,3 juta. “Saya tidak melihat penarikan itu pada riwayat mobile banking. Petugas pemasaran BSI menyarankan saya mengambil rekening koran,” tambahnya.

Setelah dilakukan pengecekan, ada mutasi rekening periode 1 sampai 5 Oktober 2026 menunjukkan dua pendebetan pada
2 Oktober 2026 Rp2.250.675,28 dan Rp724.067,39 ribu.

Selain itu, dana T apera korban sebesar Rp2.658.380,06 tercatat cair pada 31 Agustus 2026 ke rekening atas nama korban di PT Bank Syariah Mandiri (sekarang BSI), sesuai data situs T apera.

“Saya sudah mendatangi Bank Mandiri Kota Bima, Bank Mandiri T aspen, dan BSI, selama dua hari berturut-turut, dan baru diberi tahu di BSI Cabang Yasin Harapan bahwa dana itu sudah dipakai membayar angsuran Juli, Agustus, dan September,” tuturnya.

Untuk dana blokir Rp 9 juta dan dana T apera Rp 2.658.380,06 sama-sama disebut dipakai
untuk menutupi 3 bulan angsuran yang sama. “Jumlah keduanya 11.658.380,06, jauh di atas
tiga angsuran sebesar 8.597.849,61. Penjelasan bank tidak menyebut selisihnya,” jelasnya.

Rohani heran lagi ketika petugas BSI Bima (Pane) menyebut dananya habis karena dipakai menutup angsuran yang macet. “Saya menolak karena tidak pernah ada tunggakan. Bendahara sekolah, Ibu Hafsah, dapat menjelaskan angsuran selama ini dibayar dan tidak pernah ada masalah,” ujarnya.

Pada hari yang sama, sambung korban, Ia ditelepon pihak BSI yang menagih kekurangan sekitar Rp 600 ribu untuk angsuran Oktober, padahal rekening saya baru didebet Rp 2.974.742,67 juta.

“Saya keberatan atas pemakaian dana blokir dan dana T apera tanpa penjelasan tertulis, atas pendebetan dua kali pada waktu yang sama, dan atas pelayanan yang membuat saya
berpindah-pindah kantor tanpa kepastian. Sisa dana blokir tidak dikembalikan, dan
tagihan tambahan datang setelah rekening saya didebet. Saya menanggung kerugian
materi dan tekanan batin akibat hal ini,” terangnya.

Bagian Pemasaran PT BSI Bima Kantor Cabang Soeta, Azhar Setiawan yang dikonfirmasi via pesan WhatsApp belum memberikan penjelasan. Saat dihubungi yang bersangkutan merespon saat ditanya kepastian identitasnya. (RED)